Just Another Day in Motherhood

“Mak ami, karya mak ami dah banyak loh mak…. Mo aku sadarin gak mak?”

Secuplik percakapan dengan seoran teman, yang juga diamini teman lainnya. Yang saya tanggapi hanya dengan senyuman. That glorious moment or feeling memang membuat senang hati. Pun kegiatan dan kesibukan di ranah publik baik via online maupun offline.

Makanya sedari dulu saya senang saja kalau ada kegiatan dan challenge tambahan. Mungkin semua juga tahu perasaan seperti ini, karena kaitannya dengan eksistensi dan aktualisasi diri. Ada kencenderungan, walaupun tidak berlari, namun mencondongkan diri ke arah sana.

Beberapa bulan terakhir menjadi perubahan besar untuk saya. Ketika saya membuat pilihan untuk putar balik arah. Menjauhi kesenangan aktualisasi diri di atas. Tidak mudah proses mengambil pilihan tersebut. Akan tetapi saya sudah tahu memang seperti itu adanya.

Tapi saya salah. Sulitnya bukanlah ketika mengambil pilihan tapi hidup dengan pilihan tersebut. Saya memang tidak sepenuhnya mundur dari berbagai peran di luar rumah. Hanya mungkin lebih buruk lagi, semacam hanya menjalankan yang ada, tanpa ambisi, yang menjadikan semua peran seperti semacam jalan di tempat. Berdaya tidak, memberikan dampak pun tidak.

Aku yakin pasti sukses di luaran, itu gampang, butuh usaha keras saja

Indeed, jika kita melakukan sesuatu yang kita kuasai, mungkin effortless pun tetap akan ada hasilnya. Akan tetapi bukan ini jawabannya. Keinginan untuk kembali 100% berkarya di ranah publik maupun kegiatan komunitas dan sosial lainnya pasti sering terlintas. Diripun merasa pasti mampu mengerjakan tantangan yang ada, dan memang iya mampu. Tapi bukan ini yang seharusnya di jalankan.

Maka tanggapan atas pernyataan teman di atas menjadi:

Biarkan aku hidup dalam kegagalan di setiap harinya, karena itulah realitanya.

Jawaban sok-sok an ketika ada yang mau mengingatkan betapa mudah meraih apresiasi di luar sana. Bukan itu tapi yang paling prinsip. Yang justru prinsip si saya masih benar-benar gagal total, gak pakai merendah. Itu fakta yang harus saya terima.

Acceptance is the first step to be better, right?

Masih jauh perjalanan, tapi masih syukur diperlihatkan dari sekarang segala kegagalan tersebut. Masih syukur dikasih kesempatan memperbaikinya.
Masih syukur dikasih gagalnya tiap hari, jadi mau terlena sedikit aja udah gak bisa.

Dulu doanya kan seperti ini, mau belajar jadi ibu dan istri yang lebih baik lagi. Pas tidak dijalani sepenuh hati perasaan segalanya baik-baik saja. Ketika dijalani justru banyak gagal dan komplainnya.

Pernah gak bangun tidur trus rasanya kayak gak punya tujuan dan semangat, karena tujuan yang dijalani semacam masih sangat jauh dan banyakan jatuhnya. Ya itu hari-hari yang saya jalani saat ini. Sering merasa kehilangan arah dan motivasi. Akan tetapi saya coba terus sadar, bahwa inilah yang benarnya, gak selalu passion dan eksistensi itu harus dikejar. Ya mungkin dikejar, tapi nanti ketika yang mendasar sudah selesai 🙂

Yang bilang begitu mungkin tidak dalam konteks banyak peran. Mungkin juga kita banyak dicekokin film/serial yang menggaungkan kebebasan, passion, dan eksistensi hidup. Padahal hidup tidak hanya tentang itu, tapi menyelaraskan ketiganya dengan peran dan tanggung jawab yang sudah diambil.

karena ini surga saya, gak ada yang bilang kan masuk surga tu mudah hehe

Bukti bahwa dengan usaha sedikit tapi fokus saya bisa meraih banyak hal, maka itu pula tahapan yang saya perlu lakukan sekarang, lebih banyak menata diri di zona tidak nyaman. Semakin banyak kegagalan, semakin banyak pertanyaan, semakin besar jalan untuk bertemu dengan solusinya.

Pagi mencoba, siang gagal, malam gagal. Besok gagal lagi. Besoknya down lagi. Besoknya melihat anak-anak sehat. Besoknya sedih. Besoknya terkaget-kaget dengan kemampuan anak.

… dan begitu terus siklusnya. Sungguh memang banyak jatuhnya daripada glorious moment-nya. Akan tetapi satu momen itu bisa menghapuskan lelah dan sedih di waktu-waktu sebelumnya.

karena inilah peran yang kita tidak akan lelah untuk merasa lelah